Jomblo Teoritis | The Series
Sebuah judul yang tercetus sejak awal tahun 2021 kurang lebih. Dari obrolan online bareng @anisafitri1453. Banyak hal sih yang kita obrolin, termasuk ngobrol tentang kejombloan, pernikahan, rumahtangga, dll. Secara pribadi awalnya ngga nyangka ada anak muda (ya seusia dia) yang punya pandangan seperti itu terhadap pernikahan, padahal doi masih muda, kalo dibandingin sama anak muda lain, maksudnya kalo aku inget saat usia segitu, atau aku melihat sekitar aku, rasanya belum pernah nemu. Ngga bermaksud memukul rata, tapi memang rata-rata usia-usia segitu tuh masih suka ngga realistis memandang pernikahan.
Yoy, dari sekian banyak yang dibahas tentang hal ini, ujung-ujungnya ya CUMA TEORI. Kenapa? karena kita juga sama-sama belum mempraktikannya. Kita bisa berteori sangat dalam, memberikan penilaian terhadap sebauh hubungan, yups finally Cuma teori yang kita bicarakan. Wkwkwk...
Tapi gak ada salahnya dong kalo teori-teori itu kita rekam? Ya mungkin dari sekedar terkesan OMDO itu ada faedahnya, ada ilmunya dan emang pasti tidak realistis, selalu berbumbu manis-manisnya aja, kelak setidaknya bisa kita baca ulang, syukur-syukur ada yang baca dan terinspirasi khususnya yang emang udah terjun langsung, udah berumahtangga. (JNE= jiga nu enya).
Obrolan Hari Ini Aja Dulu
Kebetulan hari ini kita bahan tema ini. Kalo harus ditulis sejak awal kita ngobrol, wah ingatanku terbatas, chat, VN dan dokumentasi obrolannya selain sebagian udah kehapus juga kalo di scroll itu akan sangat memusingkan. Se-enjoynya aja lah. Blog-blog saya ini kan!
Ketakutan
Pokoknya akhir-akhir ini aku jadi sering denger tentang mental healt, mental ilnes, dan penyakit mental, dll, sangat banyak dan beragam klasifikasinya, sejenis perfeksionis (gak tau nulisnya gimana), stres, takut, aja bisa dikatakan mental ilnes. Lha kalo gitu manusia mana yang benar-benar sehat mentalnya? Gitu deh, penyakit manusia modern ini menjadi sangat kompleks. Mungkin seiring dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan kali ya, jadi banyak klasifikasinya, mungkin kalo diklasifikasi dengan lebih rinci, nanti ngasih solusinya jadi lebih gampang. Gtw juga sih. Yang pasti hidup jauh dari syariat itu emang pasti jadi gampang stres, depresi. Saat hidup semakin kapitalis, semakin berat, tapi kita dituntun untuk bisa menyelesaikannya tanpa melibatkan Allah, jauh dari tawakal. Mana bisa?
Ada postingan di IG @edgarhamas, yang kita itu lagi rame bahan childfree, beliau berkomentar bahwa inti permasalahan seseorang memutuskan untuk childfree itu karena ada ketakutan, kekhawatiran dalam memandang masa depan. Padahal itu semua tidak seburuk yang dibayangkan.
Ya, ku kira ini termasuk ‘kenapa kita belum berani memutuskan menikah?’ karena masih memberikan ruang nyaman terhadap ketakutan. Tapi faktanya memang ada juga ulama yang tidak menikah karena ingin fokus menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan masyaAllah karya-karya beliau-beliau diakui danbermanfaat bagi umat. Ketakutan yang ulama amalkan adalah jenis ketakutan yang produktif. Nah kita?
Terbiasa takut karena trauma, punya pengalaman yang buruk dilingkungannya hidup, ada perbandingan yang sangat jauh antara ilmu-ilmu pernikahan yang dibaca dengan realitas, tidak ada teladan yang bisa ditiru, tidak bisa membuat keputusan sendiri, tidak bisa memluai dan ya mungkin itulah sedikit contoh ketakutan untuk menghadapi masa depan.
Seorang guru pernah mengajarkan, padahal belum sampai diutarakan permasalahan, beliau sudah mampu membaca, ‘ketakutan’. Kita harus berani menghadapi ketakutan itu. Pejamkan mata, hadirkan kembali ketakutan itu, coba hadapi, buang segala asumsi, lawan asumsi-asumsi negatif itu, sugesti dengan asumsi-asumsi positif, insyaAlah jika kitanya mau, itu bisa selesai, karena kuncinya dikita sendiri, realita itu gak semengerikan itu kok.
‘Takut’ menikah dengan orang yang salah. Atau ngga papa nikah dengan orang yang salah (dalam makna setelah kita berupaya ternyata orang yang dinikahi tidak sesuai, bahkan jauh dari ekspektasi kita) itu tidak terlalu jadi masalah, bahkan bagus karena disana kita bisa banyak belajar. Banyak pelajaran hidup. Pelajaran hidup itu bukan hanya dari orang baik saja, justeru dari orang salah kita akan jadi banyak belajar. Allah hadirkan orang salah dalam hidup kita, untuk menguji kita. apakah kita bisa mengambil pelajaran dari kehadairan mereka atau ngga.
Kalo pernah denger ILC tapi aku lupa lagi sama beliau... Bahwa, kita itu hidup harus ada yang ditakuti, bahkan ketakutan paling awal hingga akhir itu adalah ketakutan kepada Allah SWT.
Takut menikah dengan orang yang salah atau berani menikah dengan orang yang salah. Bisa jadi berangkat dari rasa takut juga, atau ngga? Misal karena usia sudah matang belum juga menikah, akhirnya menerima siapapun, karena takut penilaian orang lain atau asumsi diri yang negatif, membandingkan diri dengan orang lain. Yang pasti itu pilihan, setidaknya pilihan berdasarkan kesadaran terutama kesadaran yang didasarkan kepada kapasitas diri juga.
Masalah juga bisa dipilih kayaknya. Pilih-pilihlah dimana aku mau punya masalah, dan mana yang harus dikondisikan untuk jadi suporting sistem terus nanti kita sama-sama menghadapi masalah. Yups masalahku jadi masalahmu juga, begitu.... Apa itu? Islam tidak diterapkan, setidaknya kita punya masalah besar yang harus sama-sama diselesaikan, “menegakan ideologi Islam”. Rumah tangga itu bukan tanpa masalah, tapi cukuplah masalah masalah rumahtangga itu menjadi masalah printilan yang menjadi pemanis kehidupan aja, jangan jadi permasalahan pokok kehidupan. Wkwkwkwk Jomblo teoritis mode on
Kalo kita memilih rumah dengan masalah, bagaimana kita bisa kuat saat ‘keluar’? Setidaknya energi kita akan habis menyelesaikan persoalan di rumah, terlebih jika energi kita terbatas. Kecuali jika punya pasokan energi luarbiasa, tentu permasalahan rumah meski belum selesai bisa di simpan dulu saat kita ada perlu keluar, nanti saat kembali kerumah, kembali berjibaku menuntaskannya. Orang dengan energi lebih bahkan tidak akan menganggap masalah sebagai masalah sih. Dan aku belum ada di tahapan itu. Atau tidak perlu ada di posisi itu, untuk itu, karena sebenarnya itu pilihan!?
Memang seberapapun kita sudah berupaya, kita ngga tau kalau ternyata harus berhenti ditengah jalan (cerai) karena alasan satu dan lain hal, akhirnya kita ngga tau siapa yang akan menjadi jodoh sejati kita kan?
Tugas kita dalah berupaya maksimal dalam memilih dan menempuh sebab-sebabnya. Jika kita punya pilihan memilih orang yang tepat, kan kenapa kita terburu-buru memilih orang yang salah dengan alasan ‘nanti kita akan banyak belajar’?
Kecuali sudah berupaya maksimal, ternyata memang Allah uji kita, nah itu baru. Adakalanya ujian itu mengantarkan pada keberkahan, pada kekuatan. Its ok gak perlu ada yang di sesali sebab dari awal jalan yang di tempuh adalah jalan yang Allah ridhai. Bercerai itu tetap jodoh, tapi jodohnya sampai batas waktu itu saja. Jodoh menikah dengannya, jodoh berumahtangga, berketurunan dengannya sampai di batas waktu itu saja. Kalau kata Umar Bin Khattab, kita berpindah dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.
Semoga ketakutan-ketakutanku dalam memandang masa depan bisa menjadi ketakutan yang produktif, betambah iman, bertambah ketakwaan, tetap memberikan kontribusi real (berharap bisa memberi kontribusi besar) untuk umat ini, untuk agama ini. Wallahu alam bi shawab.
Sumedang, 28/08/2021, 22.10.
Komentar
Posting Komentar