Surat Untuk Kakak Sarrah
...
Kakak sudah menungguku dari pukul 4. Tapi aku terlambt datang sampai jam 5.30 lebih, hampir magrib. Saat aku tiba, kakak sedang memeluk al-Qur’an di balik jendela kobong, dan langsung berteriak, “Teh Muthi”, langsung lari, memeluku lama, langsung berurai air mata. Aku pun tak mampu membedung air mataku. T.T
Tangismu sesegukan. Aku gak tau apa yang harus aku lakukan. Kita terkenang pada masa-masa kebersamaan kita dulu. Tinggal bersama, berjam-jam ngobrol, sampai malam, sambil aku cuci piring, beres-beres dll. Kita begitu enjoy bercerita. Ya, ini adalah kesan persahabatan terbaik yang pernah aku alami (dan sepertinya untuk kakak juga). Kakak mengajarkanku banyak hal, hal-hal luar biasa. Dan sekarang aku ngga tau, bener-bener ngga tau, harus gimana untuk bisa seperti dulu lagi!
Aku menyesal meriset aplikasi perekam suara di HP, karena HP kentang udah gak kapabel untuk aplikasi-aplikasi kekinian, memori selalu penuh. Ada rekaman obrolan bebas tapi berkualitas kita dulu dengan durasi yang sangat panjang. Saat aku rindu, aku ingin memutarnya, aku cari-cari, tapi ternyata gak ada. T.T
Waktu kakak nangis, aku sampaikan janji-janji, sekedar agar bisa mengobati rasa... Yang mungkin rasa itu benama rindu. Ah, dasar kali ini Dilan benar, ‘rindu itu berat’. Tapi masa iya siiiiiihhhh....
Aku ngga nyangka bisa dirindukan oleh kakak, sampai segitunya lagi T.T. Seorang yang ‘jaim’ yang sepertinya belum pernah aku lihat menangis seperti itu sebelumnya. TAPI disislain, aku juga jadi merasa sangat besalah, telah berhasil membuat kakak menangis seperti itu. Sesedih itu. Semoga tidak sampai kecewa ataupun yang lainnya. Jika begitu aku merasa telah memberikan dampak negatif (tidak produktif) untuk kakak. Lagi-lagi semakin membuatku bingung. Apa yang bisa aku lakukan untu memperbaiki semua ini?
Aku tidak bisa berjanji ‘kalau nanti kita bisa bareng-bareng lagi kayak dulu’, karena ada hal-hal yang tidak bisa kita tolak, waktu terus berjalan, usia kita terus berkurang (bertambah), tanggungjawab semakin besar, banyak jalan hidup harus kita pilih masing-masing, ada takdir-takdir yang harus kita jalani masing-masing. Jika obat dari semua ini adalah kehidupan seperti masa lalu, maka... aku tidak tahu, apakah takdir Allah akan menyatukan kita kembali seperti dulu atau tidak!
Kepikiran terus sejak Jumat sore itu, hingga saat aku menulis surat ini. Ya mungkin inilah kehidupan dunia kak, ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Sepertinya kita harus belajar pada kesatria Islam, walau aku sendiri belum tentu mampu seperti para kesatria, tapi mari kita coba belajar untuk jadi seperti mereka. Kakak pasti jauh lebih hapal kisah-kisah para Sahabatnya sih. Ya anggap saja ini pancingan untuk menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai renungan pribadi kakak.
Ada Mus’ab bin Umair yang meninggalkan seluruh kenikmatan dunia yang ia miliki untuk Islam, Khalid Bin Walid yang mungkin paling sedikit pemahaman tsaqafah Islamnya karena lebih banyak hidup diatas kuda, di medan jihad yang sebenarnya ingin juga berhalqah lebih panjang bersama Rasulullah saw dan sahabat yang lainnya, Najmuddin al Ayyubi menunggu sekian lama untuk menemukan Siti Khatun, sosok yang akan menjadi ibu dari Kesatria pembebas Al-Quds, Shalahudin al Ayyubi. Maaf kalo contoh kisahnya gak terlalu aple to aple (Cuma hapal sedikit), maksudnya beliau-beliau yang di rahmati Allah, mengajarkan bahwa, hidup itu perjuangan kak. Bahkan keluarga Shalahudin al Ayyubi pun kehidupannya bukan untuk selalu bersama, memadu kasih kan? Tapi untuk berjuang, membela agama Allah. Semuanya mereka dedikasikan, yang terbaik, yang mereka miliki untuk Allah SWT.
Ya, semua akan terasa berat, kalau kita menihilkan Allah dalam hidup kita, kita terus menuruti hawa nafsu kita kak, seperti rasa rindu kita ini (beuh). Seberat apapun ujian yang harus dihadapi oleh masing-masing kita maka, kuncinya adalah, terimalah, ridha-lah, jadilah kesatria yang mampu menaklukan segala tantangan, cari dan carilah ridha Allah saja... Aku pernah baca bahwa, ada pahala terbesar mengalahkan pahala amalan apapun adalah pahala ridha terhadap qada atau takir Allah SWT. (Nanti dicari lagi sumber bacaannya, lupa, he)
Meski raga kita tidak saling bersapa, ayo teruslah melangkah dalam degup yang sama, meuju ridha-Nya. Dunia ini terlalu sementara untuk kita harapkan. Mari kita berharap hanya kepada Allah SWT saja, pemilik keabadian, yang telah menjanjikan pertemuan dan kebersamaan tiada akhir, yaitu saat berada di Jannah-Nya. InsyaAllah... Semoga Allah sampaikan kita pada akhir yang baik (husnul khatimah) atau akhir yang sangat baik (syahidah), one day kita bersama lagi...
Udah jangan nagis lagi... Senyum dulu dong... Semangat... Karena kitalah kesatria Islam itu (sambil menepuk dada. Puk puk puk)...
....
Jingkang, 25/09/2021, 23.23 wib.
Komentar
Posting Komentar