Memperibet Hal yang Sederhana

 Sebenernya sedang teringat dengan postingan salah satu trainer di FB yang membicarakan selebgram Khaby Lame (pada tahu kan?) yang terkenal dengan postingan-postinganya yang menyindir ‘life hack’ yang alih-alih ingin mempermudah kehidupan, menyederhanakan kerumitan justeru ngawurnya malah disolusikan dengan life hac yang makin ribet. Wkwk kepikiran terus, kayak related aja sih sama kenyataan kita...


Diperhatikan manusia itu banyak mempersibuk diri, menempuh cara-cara ribet untuk suatu tujuan yang sebenarnya sederhana yaitu ‘menikmati hidup’, bagaimana hidup ini benar-benar terasa nikmat. Ada mereka yang menganggap kenikmatan hidup itu saat punya segala hal, punya popularitas, punya harta melimpah, meski harus mengorbankan waktu kebersamaan bersama keluarga, punya pasangan, punya keturunan tapi sekedar untuk status, realisasinya ada permasalahan menahun yang tak tersolusikan.


Ya, setidaknya punya seluruh poin untuk mendapat nilai ‘cukup’ di hadapan manusia. Kita hidup di lingkungan yang demikian, membentuk kita hari ini, akhirnya sulit untuk membaca diri dan kehidupan, tidak mampu membedakan sebenarnya untuk apa kita bercape-cape menjalani hidup, antara agar manusia ridha atau benar-benar agar Allah ridha, akhirnya hidup dengan penuh pura-pura. Karena tentang bagaimana manusia menilai, aslinya hidup masih terasa hambar...


Namun juga bukan narasi untuk membenarkan kemalasan, seolah-olah-olah tidak mau berusaha dalam hidup, mencari dunia dalam makna untuk tetap terlaksananya misi hidup (ibadah) bahkan setiap orang memiliki kemampuan, kapasitas diri yang berbeda-beda, akhirnya memang banyak cara yang beragam juga, ya selama caranya halal sesuai dengan yang di syariatkan semua itu tidak masalah, bahkan Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya, selama proses menempuh kepemilikannya adalah halal sesuai syariat.


Dalam ketidak idealan hidup seorang muslim ini, dunia rasanya begitu mudah menghipnotis, secara perlahan, sedikit demi sedikit menggeserkan niat hingga lupa dengan esensi kehidupan ini. Atau bahkan hingga detik ini tidak mengerti apa esensi yang kita cari dalam hidup ini, kadung terjebak dengan pola kefanaan dunia, tidak pernah bertanya lagi pada diri sendiri dan tidak jujur dengan diri sendiri tentang esensi hidup ini.


Kita perlu cerdas dalam memilih amal, sebab “kewajiban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang kita miliki” adalah benar. Jangan sampai waktu habis untuk melayani tipuan dunia, untuk hal-hal yang tidak esensial. 


Lebih jauh jika kita lihat para korporat, membangun perusahaan besar, merusak alam, mencemari lingkungan, eksplotasi sana-sini secara membabi buta, buat apa coba? Apakah itu berelasi dengan nikmatnya hidup yang dijalani? Lebih keji jika tak peduli jika dibalik perbuatannya itu banyak jiwa manusia terenggut. 


Jika kondisi-kondisi diproduksi oleh peradaban Kapitasme. Jadi sangat penasaran bagaimana prioritas manusia yang hidup dalam peradaban Islam. Pastilah mereka generasi yang memperhitungkan amal, prioritas pada hal-hal yang esensial. Wallahu alam bi shawab.


Sumedang, 07/06/2021, jam 20.00 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Pertama Kalinya Lebaran Sendirian

Jomblo Teoritis | The Series

Surat Untuk Kakak Sarrah