Disebuah Hari
Hari Kamis, 15 Juli 2021 ditengah kondisi pandemi ini Allah masih memberikan nikmat yang luar biasa kepadaku, nikmat sehat. Ditengah berbagai berita duka, Allah masih memberiku kebahagian, keceriaan. Aku kita ini wajib aku syukuri dengan syukur terbaik (meski aku tak tau bagaimana caranya).
Bagun lebih awal, muncul niatan untuk saum, melanjutkan rutinitas pagi dan saat mau memberi pakan kelinci ternyata pakannya habis. It's ok. Pagi ini MasyaAllah sangat cerah, matahari pagi bersinar dengan berani, langsung ku tancap gas motor pergi ke 'pasir' (sebutan kebun yang berbukit2 di arah belakang rumah).
Ku hirup nafas panjang, MasyaAllah walhamdulillah... Segar sekali, oksigen terbaik yang kudapatkan pagi ini secara gratis. Kondisi yang sangat beruntung untuku masih bisa bernafas lega disamping membayangkan mereka, saudara-sauadara kita yang tengah berjuang dengan virus yang masih bersarang di paru-paru mereka, bernafas menjadi sangat berat dan berbayar, semoga Allah berikan kesembuhan dan kemudahan melewati ujian sakitnya.
Tak lama mengendarai motor, sampailah pada kebun yang banyak dengan rumput yang aku tuju. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan 1 ikat besar rumput untuk pakan 20 ekor lebih kelinci. Alhamdulillah jam 8 pagi sudah selesai, pulang dan langsung bersiap bersih diri untuk melanjutkan kajian online.
Rasanya lega banget, udah punya pakan kelinci, sisanya aku akan pakai waktunya untuk membaca. Momen yang masih harus diciptakan di tengah berbagai kesibukan seorang pengacara (pengangguran banyak acara). Pilihan bacaan muncul banyak dikepala, mana yang akan aku baca dengan penuh ketenangan siang ini? Aku teringat pada teman diskusiku, yang akhir-akhir ini diskusi agak terhambat karena agendaku yang kacau, bayak chat dan VN yg belum ku simak dengan seksama.
Terakhir yg masih PR adalah menyimak tulisan seputar pengaruh filsafat terhadap kemunduran Islam. Teknik mind mapping masih selalu membantuku untuk memahami materi-materi dan pembahasan dalan waktu 2 pekan terakhir ini. Alhamdulillah akhirnya aku bisa memahami pembahasan artikel tersebut dan penjelasan sahabatku itu.
Sahabat diakusiku pun memberikan komentarnya...
"Penulis jalanan" produktif. Kenapa saya memanggilnya begitu? Karena beliau belajar sendiri, kadang juga belajar bersama komunitas. Tapi tulisannya independen, kadang di muat di media massa, sering juga dilempar di sosmednya sendiri. Dalam catatan sejarah, banyak "penulis jalanan" Yang dia menciptakan saluran bagi tulisannya sendiri yang bahkan jauh lebih berpengaruh di tengah2 masyarakat. Ketimbang "penulis profesional", yg hanya menulis di kanal terbatas. Yg hanya bisa diakses oleh org2 tertentu. Panjang umur perjuangan!! Umurmu abadi karena goresan tulisanmu teteh, insyaAllah☺️π€²π»π
Aamiin ya Rabbal'alaamiin. Sebelum ini dia share 2 halaman pengantar buku yang barunya "Islam dan diabolisme intelektual", moodbooster banget untuk optimis menuliskan setiap momen dan membuat planing menulis buku. Super kereeeen MasyaAllah.
Diantara keceriaan diatas ada satu penggal kisah yang juga memberiku banyak pelajaran. Saat pagi membuka WA, ada satu kontak mengirimiki 72 chat. Wah, antara akan menarik membacana dan khawatir tidak dapat fokus membaca rangkaian chat tersebut.
72 chat itu dari Sarrah, anak yang baru lulus SD itu adalah juga sahabat diakusi terbaiku. Mungkin orang akan berpikir, bagaimana bisa bersahabat dengan anak kecil, eh anak SD. Yang membuat obrolan kita selalu nyambung adalah referensi bacaan dan wawasannya yang luas. Dia banyak membaca buku, menghafalkan kisah2 dan nama2 tokoh dalam buku.
Menjalin persahabatan yang didasarkan pada amar maruf nahi munkar, pada diskusi2 ilmu adalah hal terbaik yang paling aku syukuri. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan satu dan banyak hal, saling berbagi wawasan, menyuntikan semangat dalam mewujudkan visi.
Adakah hubungan semisal ini terjalin dalam ikatan pernikahan dan rumah tangga? Aku ngga tau tapiiii kayaknya ada sih satu sosok keluarga yang aku lihat hari ini, menjadi gambaran yang menurutku, mampu menggambarkan kerharmonisan ini. Kuncinya adalah komunikasi, semua di komunikasikan baik antara suami kepada istri pun mereka sebagai orangtua terhadap anak-anak mereka, ada komunikasi yang sehat.
Dah itu aja dulu lah...
Komentar
Posting Komentar