My Reaction: Drakor Go Back Couple

Akupun tak menyangka meyelesaikan 12 episode dari drama ini. Ya, sudah terjadi dan setidaknya aku bisa mengambil beberapa ibrah (pelajaran) penting setelahnya.


Jadi awalnya aku lihat cuplikan dramanya di salah satu SW teman. Digambarkan seorang ibu yang ‘maaf’ sedang BAB tiba-tiba anaknya (balita usia kurleb 1,5 tahun) menghampirinya, dibalik pintu toilet merengek memanggil-manggil ibunya. Beberapa saat kemudian, balita itu sudah ada dipangkuan ibunya, di toilet, sambil BAB, memangku anaknya. Sang suami yang ada keperluan ke toilet jadi melihat pemandangan tersebut, terkejut dan heran, dengan nada agak membentak “kenapa pintunya tidak ditutup! Kenapa (menyebutkan nama anaknya) kamu bawa kesitu?" Kemudian si suami pergi.


Adegan beralih saat si ibu  ada di meja makan sendirian, akan menyupkan nasi, terdengar anaknya menangis, akhirnya si ibu, mengurungkan suapannya dan makan sambil menggendong anaknya. Hubungan yang ngga ada romantis-romantisnya sih. Yaaahhh seperti realita yang sering kita lihat. Kita? Aku maksudnya.


Alur cerita ini tentang pasangan suami isteri yang sudah 18 tahun menikah, dengan dikaruniai seorang anak balita. Di hari ulang tahun pernikahannya itu, justeru masing-masing mereka ditimpa masalah cukup pelik, yang mengantarkan mereka pada kesepakatan untuk bercerai. Karena judulnya ‘go back couple’ , ya jelas endingnya itu pasti dan harus membuat mereka bersatu lagi. Gimana caranya. Nah, caranya itu mereka dibuat kembali ke masa lalu, mengulang semuanya dari awal dan mencari kebahagianaan masing-masing. Drama diseting kembali ke 18 tahun yang lalu saat mereka belaum saling mengenal, tapi dengan memori pikiran yang tidak berubah, memori mereka usia 38 tahun tapi hidup di usia 20 tahun (paham ngga euy? Gitu lah pokonya). Disana mereka banyak mengalami proses pendewasaan, memahami banyak hal dan singkat cerita mengantarkan mereka untuk bersatu kembali. 


Begitulah kurang lebih. Menarik sekali saat pertama kali melihat cuplikan itu.  Judulnya sih, “susahnya berumahtangga” tentang perjuangan seorang ibu merawat anaknya. Sepertinya para ibu itu sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup bebas, setiap waktu seorang ibu adalah untuk merawat anak, suami dan rumahnya. Tanpa pernah ada yang bisa memahami bahwa iapun ingin merasakan liburan dan rehat sejenak dari segala tugas beratnya. Wah, udah masuk ke ibrah drama nampaknya.


Dalam Setiap Hubungan Perlu Komunikasi Yang Baik


Diawal drama berisi tentang pertengkaran dan perceraian dari tokoh utama. Sang istri (Maa Jin-Joo) yang merasa sangat lelah, hatinya hancur saat melihat anaknya terluka (perlu perawatan) karena kelalaiannya dalam mengasuh, isteri perlu perhatian sesorang untuk mendengarkan kesedihannya dan pertolongan, tapi sayangnya sang suami juga mengalami hal yang sama, sedang merasa hancur atas sikap atasannya di tempatnya bekerja, sama-sama perlu pengertian dan perhatian. Keduanya justeru saling menuntut satu sama lain, untuk mengerti dan memahami (penuh amarah). Singkat cerita akhirnya keluarlah kata-kata ‘cerai’ diantara mereka.


Ya gimana mereka bisa saling mengerti tentang kesibukan mereka, menegerti dimana harus perhatian, bagaiman untuk memahami, jika tidak bertukar kisah setiap harinya? Si suami sebenarnya ingin membuat isterinya selalu tersenyum bahagia, tapi lain lagi di isteri, dia inginnya suaminya selalu ada disampingnya saat di butuhkan, mendengarkan cerinya, menangis bersamanya. 


Berkomunikasi yang baik. Hal nampak sederhana tapi tak setiap orang punya skill yang cukup baik tentang komunikasi. Bukan sembarang skill sih kayaknya, karena perlu ‘perhatian/ kegundahan, alasan khusus’ untuk mau memiliki ketertarikan dengan aktivitas komunikasi, apalagi komunikasi dalam sebuah hubungan yang panjang (pernikahan) itu sangat-sangat penting. Sebab rasanya kita selalu dibenturkan dengan berbagai asumsi diri dengan lawan bicara yang ‘tak sefrekuensi’. Sefrekuensi itu maksudnya bukan tentang latar belakang pendidikan, misal lulusan SMA ngga sefrekuensi dengan lulusan sarjana, bukan itu, tapi yang sama-sama ‘mau berbicara’. 


Aku selalu menganggap segala hal itu bisa didiskusikan, setiap statmen itu belum tentu kebenaran yang harus dijawab “iya” masih sangat mungkin untuk “tidak” atau kalaupun harus “iya” mungkin cara atau steps nya jangan sampai ada yang terlewat, pokonya pasti ada banyak presepsi yang bisa kita diskusikan lah.


Adakalanya kita dihadapkan lawan bicara yang punya asumsi, yang menganggap setiap statmen itu demikian, harus dijawab “iya atau tidak”, ‘gak ada diskusi’, sa-klek, kaku. Lawan bicara yang gak asik bet dah ya.


Ini masih menjadi PR besar. Tidak semua orang punya komunikasi yang baik. Termasuk aku. Masih suka termakan asumsi diri sendiri, terhadap sesuatu yang berujung “ya udah ngga usah di omongin, cape, males, ngga akan bisa dirubah kok.” T.T


Tapi ada keyakinan sih, sesulit apapun membangun komunikasi dengan orang yang tidak sefrekuensi, pasti bisa sih, come on kita kan ahluk hidup, bergerak, berkembang. Begitupun cara pikir kita. mungkin diperlukan beberapa teknik atau treatmen khusus untuk sampai terbentuk komunikasi yang baik/sehat! Mungkin!


Mertua Layaknya Orangtua Kandung


Drama ini sangat bagus menggambarkan hubungan menantu dengan mertua mereka masing-masing. Sangat dekat. Sebagai mertua, mereka memosisikan menantunya agar nyaman kepadanya, memperhatikan mereka seperti anaknya sendiri, bahkan lebih. Begitupun para menantu sudah menganggap mertuanya seperti orangtuanya sendiri, bahkan lebih. Menantu laki-laki tidak pernah diperlakukan sepesial oleh orangtuanya tapi mertuanya memerlakukannya dengan sangat baik, lebih-lebih dari anak-anaknya sendiri.


Ingat kajian online beberapa waktu lalu, bertema perempuan ‘sebagai seorang anak’. Disampaikan disana bahwa mertua kita juga sama ‘orangtua kita’, sebab mereka yang telah melahirkan suami kita. Aku pernah sih melihat pemandangan ini di kehidupan nyata, meski bukan keluarga sendiri. Luar biasa kagumnya saat pertama kali tahu dan memperhatiakan keluarga itu. Ada hubungan per-besan-an yang begitu erat, tak ada canggung, sudah seperti keluarga ‘inti’ sendiri, sangat akrab.


Ketika drama ini menampilkan yang demikian, ya aku kira itu bisa real terjadi dalam kehidupan nyata. Manis sekali...


Tentang Orangtua 


Seting waktu ‘kembali ke 18 tahun lalu’, ke tahun 1999 dari 2017, saat mereka belum saling mengenal, masih sekolah, ibu Maa Jin-Joo masih hidup (cerita diawal, ibunya ini sudah meninggal, bahkan sebelum cucunya lahir).  Maa Jin-Joo yang sangat menyesali kematian ibunya, menyesal karena belum sempat berbakti dan saling memahami satu sama lain dan tidak bisa menemani ibunya dihari-hari terakhirnya, karena suaminya tidak ada dirumah dan malah bikin masalah dengan preman di jalan, yang membuatnya harus berhubungan dengan polisi. 


Saat seting waktu dikembalikan ke 18 tahun yang lalu, ada kesempatan untuknya bisa kembali bertemu dengan ibunya dan dia benar-benar tidak menyia-nyiakan momen kebersamaan dengan ibunya. Mengabiskan waktu bersama, berbakti kepada ibunya, meminta nasihat-nasihat kehidupan kepada ibunya. Ketika sang suami melihat mertuanya itu, ia sangat terkejut dan diam-diam mengikutinya, memberi hadiah makanan kesukaannya. Iapun sempat bilang, merindukan mertuanya, seperti sang isteri merindukannya (penuh haru banget pas momen ini).


Ini juga masih PR besar aku, berbakti dengan sepenuh hati dan sepenuh usaha dan yang terpenting berbakti dalam hal mendoakan, tidak berkata ‘ah’, tertap ahsan kepada mereka baik dalan ucapan atau tindakan, selalu bersegera saat mereka memerlukan bantuan, dll. Bahkan aku tidak pernah meminta nasihat mereka tentang kehidupan. T.T selagi mereka masih ada, atau kita masih ada, bersama mereka, maka berbaktilah semampu kita mampu untuk berbakti.


“Seorang anak akan bisa hidup tanpa ibunya, tapi seorang ibu tidak akan bisa hidup tanpa anak-anaknya.” Nasihat sang ibu kepada Maa Jin-Joo. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi ibu. Tapi sebagai seorang anak, ya mungkin dalam lubuk hati paling dalam setiap ortu tidak pernah ingin berpisah dengan anak-anaknya. Semenjengkelkan apaun anaknya, ia akan merasa kesepian saat ditinggalkan, dan tetap akan menyambutnya saat kembali, dengan sambutan terbaik. T.T


Aku tidak hapal semua nama tokohnya, haha. Tapi sangat ingat dengan pesan-pesannya. Ini pesan Ma Jin Joo tentang perjuangan seorang ibu kepada (gebetannya di masa muda, aku tak ingat namanya). Gebetannya ini punya masalah keluarga yang sangat pelik, akhirnya ia membenci orangtuanya, membenci ibunya, sebab perlakuan buruk mereka bahkan sejak ia kecil, ortu yang tidak pernah peduli dan memperhatikannya, bahkan sejak kecil, saat usia TK, saat yang lain dijemput oleh masing-masing ortunya, ia menjadi murid yang paling terakhir, ia menjadi anak yang diabaikan, ortunya selalu disibukan dengan pekerjaan.


“Menjadi seorang ibu itu tugas yang sangat berat, meski mudah diucapkan dan sering dianggap sepele. Jangan menganggap ibumu tidak mau menyayangimu, memperhatikanmu. Ini adalah tugas yang sangat berat, jadi kenapa mereka seperti itu, sebab mereka tidak sanggup menjalankannya. Mereka manusia (punya keterbatasan, tugas menjadi ibu ini terlalu berat).” Kata Maa Jin-Joo keibuan, kurleb lah kata-katanya seperti itu. 


Ini bagian-bagian yang paling aku suka. Tentang luka pengasuhan yang kadang tidak disadari setiap orang (baik anak maupun para orang tua), tapi itu sangat berpengaruh, masuk alam bawah sadar, mempengaruhi prilaku dan jika tidak diselesaikan dengan memaafkan dan berdamai, akan ada kemungkinan besar mereka akan melakukan ‘balas dendam’ baik kepada orangtuanya, orang sekitarnya, dirinya, pasangannya, atau anak-anaknya (KDRT kepada anak). Hah, ini hanya pengamataku saja sih. Ya kan ini react jadi boleh dong isinya opiniku semua. Wkwkwk


Kayak kita tuh lebih mudah menghargai orang lain (yang tidak dikenal), menghargai harta benda tapi tak pernah bisa memperhatikan ‘perasaan’ orang sekitar, perasaan anak, pasangan, orangtua. Padahal perasaan itu bisa terluka dan mungkin akan menjadi luka yang membekas jika dilakukan berulang-ulang. Tanpa sadar kita telah melukai hati-pikiran-harapan orang terdekat, orang terpenting dalam hidup kita, oleh sikap kita. T.T Kasusnya kayak anak yang pecahin gelas, langsung ortunya bentak-bentak. Yaelah, gelas pecah, bisa dibeli lagi kali. Memperbaiki mental anak, dimana reparasinya, atau kalo beli lagi, beli dimana?


Bisa berat memang dampaknya, jika tidak disadari dan dimaafkan. Memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Gak yakin sih bisa memaafkan dan berdamai, jika buka dengan dorongan keimanan, didorong dengan pemahaman Islam, pemahaman qada-qadar. Hanya dengan mengingat Allah kan hati akan tenang (bisa memaafkan dan berdamai)?



Kenapa Perempuan Selalu Merasa Paling Bisa Melakukan Segala Hal


Rasanya perempuan bisa melakukan segala hal, bahkan pekerjaan laki-lakipun bisa. Dan sayangnya ini juga dimanfaatkan para aktivis feminis. Kalau pakai kacamata kebebasan ya gitu sih. Tapi kalau pakai kacamata Islam, semua udah ada porsinya masing-masing dalam kehidupan. Takaran porsi yang tepat yang membentuk harmoni dalam kehidupan.


Maa Jin-Joo merasa banyak kecewanya terhadap suaminya yang tidak ada disaat ia membutuhkan, tidak bisa diandalkan bahkan ia merasa menjadi yang paling berat menanggung tanggungjawab rumah tangga. Ini menjadi alasan terbesarnya tidak bahagia dan memutuskan untuk bercerai. 


Tapi akhirnya ada adegan yang menggambarkan sudut pandang laki-laki dalam menghadapi kehidupan RT. Ini sangat menarik, sangat. Bukan hanya perempuan yang sulit di tebak sih, faktanya sikap dan prilaku laki-laki juga sama, andai yang harus dihargai itu perasaan laki-laki, bukan perempuan aja. Wkwkwk


Faktanya laki-laki itu punya naluri yang berbeda dengan perempuan. Banyak kelebihan laki-laki yang tidak akan bisa dimilki perempuan, begitupun sebaliknya. Laki-laki tetap imam untuk perempuan, posisi yang sudah Allah resmikan girl. Kau kalau tak suka, siap-siap berhadapan denganNya lah. Jan maen-maen. :D


Laki-laki itu selalu berusaha untuk setia, bekerja mati-matian untuk bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Dan perempuan tidak bisa melihat ini selain berkata, “Cuma bisa gitu doang!” padahal sih coba pahami perjuangannya, usahanya. Itulah hasil kerja maksimal mereka. Kita manusia lah, punya kemampuan yang beda-beda, rezeki yang beda-beda. Kalau perempuan punya ide yang efektif dan efisien biar laki-lakinya bisa lebih baik kan tinggal didiskusikan saja. Cuma inget kalau doi belum tentu bisa menjalankannya, karena keterbatasan kemampuannya atau dia aslinya punya cara sendiri dan memang perlu proses yang tidak sebentar, ya saling jelasin aja kali ya. Dan harusnya perempuan (isteri) bisa menghargai itu sih. Yaelah ngomong mah ringan banget dah yaaaa. Wkwk wallahu alam.


Yang pasti ini belum tentu semudah yang diteorikan, diucapkan, diopinikan. Kehidupan pernikahan adalah ibadah. Gada ibadah tanpa godaan atau ujian. Jangankan ibadah terpanjang, ibadah yang pendek aja, kayak solat, ada aja kan godaannya, ya ngga?


Berani Membangun Komitmen


Kalo di drama sih, cinta itu harus berbalas (diperankan tokoh yang lain, tapi aku lupa namanya wkwkwk). Agar tau pasangannya mencintainya atau tidak, maka ia harus mengajak gebetannya berkencan (padahal si laki-lakinya itu agak gemulai dan perempuannya terlihat lebih agresif sikapnya. Tapi laki-laki ini berani, demi tahu bagaimana perasaan gebetannya itu terhadapnya). Ya ini kan di drama, di reality life tetep harus di landaskan pada syariat Islam dong ah. Ada step-stepnya syar’i nya kan. Pasti ada, kalo ngga ada, ya pasti ada lah! 


Gimana agar bisa terbalas? Ya harus diungkapkan. Berani berkomitmen dan mengungkapkan adalah step yang harus bisa dilewati dan ditaklukan sebelum sampai ke gerbang pernikahan. Berani mengungkapkan, memberi perhatian dan berkorban. Setidaknya itulah ikhtiar yang harus kita lakukan dalam hidup. Ya kalau tidak menempuh step ini, gimana bisa sampai? Jangan berikan ruang nyaman pada ketakutan, jangan takut melangkah. Inilah hidup yang harus selalu kita hadapi.


Emang sih, balasannya bisa “iya (diterima) atau tidak (ditolak)”. Ditolak juga bukan akhir dari segalanya kan! Hidup harus terus berlanjut dengan ikhtiar-ikhtiar terbaik yang bisa kita lakukan. Bukan sampai hati sudah terbiasa untuk hancur tapi kita tahu, ada yang namanya keteapan Allah, qada-qadar. Ikhtiar terbaik, selebihnya, cukup direspon dengan sabar, ridha dan syukur kan! Beuh ringan banget ngomongnya! heee Bismillah semoga bisa seringan itu juga dalam mengamalkannya! Hidup mah gimana presepsi kita. Nikmati aja setiap fasenya...


Pernikahan Adalah Perjalanan Yang Panjang 


Ibu Maa Jin Joo. “Ibu juga tidak pernah tahu apakah ayahmu selalu menyukai ibu, inilah yang bisa kami lakukan (dalam hidup)” melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. 


Mungkin cinta itu sudah tidak ada pada usia pernikahan yang sudah lama. Ya, komitmen diawal pernikahan itu menjadi hal yang dipertanyakan. Apalagi jika kita melandasi hubungan ini karena Allah, tentu tidak boleh semena-mena mempermainkannya. Ijab-qobul dalam pernikahan adalah janji yang disaksikan Allah, bukan janji yang main-main.


Kita tidak bisa mengatur perasaan dan tindakan orang lain, sekalipun itu pasangan kita. Tapi kita bisa berupaya untuk mengatur perasaan dan tindakan (sikap) kita terhadap pasangan kita. memberikan, melayani dengan terbaik, semata-mata ridha Allah. Bukankah Allah sediakan pahala yang besar setiap amal baik yang dilakukan dalam ikatan pernikahan? 


Oiya sebebernya jadi keinget kisah ini,


Seorang lelaki berkata kepada seorang syekh: "Dulu, sebelum menikah, aku melihat istriku begitu indah, tiada duanya di dunia ini. Ketika aku melamarnya, ternyata ada banyak wanita yang seindah dia. Ketika aku menikahinya, aku mulai merasa bahwa ada banyak wanita yang lebih cantik darinya. Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun kami menikah, aku merasa bahwa semua wanita lebih menarik daripada istriku."


Syekh itu menjawab, "Apakah engkau tahu, ada yang jauh lebih parah dari yang kau alami saat ini?"


"Tidak, " jawab lelaki itu. 


Kemudian syekh tersebut melanjutkan, "Seandainya, engkau menikahi seluruh wanita di dunia, tanpa terkecuali, maka engkau akan merasa bahwa anjing-anjing yang berkeliaran di jalan jauh lebih menarik bagimu daripada wanita manapun. Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah." Lalu Syekh itu bertanya, "Apakah engkau ingin istrimukembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?" 


"Iya Syekh, " jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu. Dengan bijak syekh menasihati sang lelaki, "Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram. Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut." 


Semoga kisah singkat ini mampu medatangkan hikmah bagi mereka yang berumahtangga, serta pelajaran bagi mereka yang sedang menuju biduk rumahtangga. Selamat menjaga pandangan. (DOS) (inilah.com, 19/4/2016)


Terus dapet kiriman dari seorang sahabat yang sangat related sama ibrah poin ini. Aku ketikin aja lah ya. Belum bisa post foto di blognya...


Pernikahan tidak sebatas bersenang-senang, ada sesuatu yang agung dalam pernikahan, yaitu berbakti kepada suami karena Ilahi Rabbi. Nikah adalah ibadah yang panjang dantanggung jawab yang berat, sebagai isteri, sebagai seorang ibu. Sudah siapkah ilmu itu?


Maka sebelum menikah tempalah diri dengan adab, dengan ilmu. Ilmu diam ketika suami marah. Ilmu bertoleransi dan tidak menyelisihi suami meski hati terasa berat dan tak sepakat. Ilmu tentang tauhid, agar kecintaan pada suami tak memaksiyati Rabbmu. (dr. Farihana Ummu Umamah)


Semoga tulisan ini sesuai yang diharapkan, mengajak berpikir ya, bukan malah ‘bucin’. Wkwkwkw sungguh maksudku ini adalah untuk renungan sih...


Persahabatan


Dibagian ending, “Seseorang yang akan berani mendampingiku selamanya, tanpa ragu, saat aku harus menghadapi dunia, kami melintasi dunia yang keras ini dengan persahabatan.”


Ini yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Akupunya dua sahabat yang penuh kesan saat bersamanya, selalu rindu untuk ngobrol, rindu ketemu, rindu bertukar kabar. Belum pernah sebelumnya punya persahabatn yang seperti ini, terbuka membicarakan banyak hal, bercanda juga menasihati satu sama lain, tidak ada iri yang ada adalah ingin yang terbaik untuk sahabatnya, ingin sahabatnya melejit menjadi manusia yang terbaik, yang sukses. Selalu merindu kapanpun. Hati terasa plong saat bertemu, saat bisa bertukar kisah. Berbicara, ngobrol menjadi kebutuhan saat bersamanya. Ini adalah model hubungan terbaik. Aku pikir begitulah kita harus berprilaku dan memprilakukan pasangan, bahkan mungkin lebih.


Dalam hubungan persaudaraan, masih ada kalanya kata gengsi, egois dll. Hubungan anak dan ortu pun, ada saat anak menginjak usia remaja, tiba-tiba jadi ada jarak, tertutup, tidak dekat. Untuk mencairkannya perlu merubah hubungan dengan model hubungan persahabatan. Saudara rasa sahabat, ortu rasa sahabat, anak rasa sahabat, pun suami isteri yang bersahabat.


---

Dalam drama dengan alurnya yang flash back ke 18 tahun lalu ini, akhirnya membuat mereka mengerti. Mereka melakukan komunikasi, mengkomukiasikan keinginan-keinginan mereka, semua terselesaikan dengan merendahkan ego masing-masing, saling mengerti dan memahami dan melakukan komunikasi yang baik. 


Sepelik apapun sebuah hubungan, kita tetap manusia yang bisa berubah, bisa saling membalas cinta, membalas kasih sayang, perhatian, jika semuanya dikomunikasikan dengan baik. Seperti caramu, caraku berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang kita miliki.


---


Ibrah lainnya


Gak tau harus malu karena, ya ampun, masa baru pertama kali nonton full drakor atau ih, kok sempet-sempetnya nonton drakor, buciners, haluers! Yang pasti aku merasa tidak akan mengulanginya lagi. Haha, ngga akan kepo-kepo tentang drakor dan drama-drama semacamnya... Sayang banget waktunya, meski aku dapet ibrah yang keren, tapi masih merasa rugi gitu. Takut kecanduan sih, kayaknya banyak hal yang harus kita pikirkan, kita tangisi daripada kisah drama ini! 


Haa, Ngga bisa ngga di maratonin sih nontonnya, soalnya malah jadi suka penasaran sama kisah lajutannya. Perasaan berasa dokocok-kocok. Hah melelahkan. Wkwkwk. Kekhawatiran lainnya juga ngga jamin drama-drama semisal ini ‘aman’ dari pornografi kan!


Pas sharing sama salah satu adik yang suka nonton drama juga, iya sama, selalu penasaran dengan lanjutan ceritanya, aplagi kalo kuota internetnya habis, bikin frustasi, katanya. Wkwkwk. Ada rasa-rasa jadi apatis juga, gak peduli lingkungan gitu rasanya, hampir kayak ngga bisa bedain reality life sama drama wkwkwk. Lebay banget ya, dasar manusia jadul! Ya ini mah kan aku...


Emang pantes aja sih drakor ini banyak diminati, kayaknya industeri ini selalu niat bikin drama-dramanha, gak maen-maen. Baik dari skenario drama yang nampak dibuat sangat reality, profesionalisme pemerannya, dan tentu saja yang sudah sangat fenomenal adalah ke-goodlookin-gan para pemerannya. Salah besar sih kalau menuduh dibalik drama ini ‘operasi plastik doang, modal tampang, dll.’ Aku kira memang di Korsel serius menggarap industeri ini. Ngga ada modal tampang doang lah. Kalo iya, ya biasa lah modal tampang di industeri hiburan hari ini mah...


Beginian ini masih memimpin umat era digital ini sih! Ya gak! Semoga kita tidak hanya berperan sebagai penonton, apalagi kalo sampai jadi penikmat, tapi juga wajib bergerak untuk perubahan, bawa perubahan ke arah Islam. Nah, kalo Islam tegak, pertanyaannya posisi industeri drama yang sekreatif ini akan ada dimana ya dalam negara? InsyaAllah sih pasti para pelaku industeri ini bakal disalurkan passionnya ke arah yang jauh lebih berkah, penuh manfaat sih.


Udah lah gitu dulu aja, udah panjang lebar juga sih... 

Kalo kalian suka dan baca ini boleh dong kasi komen ya... Pingin tau opini kalian...

Wallahu alam bi shawab...

Jingkang, 09 Agustus 2021, 00.44 WIB. Revisi, 10/08/2021, 21.10 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Pertama Kalinya Lebaran Sendirian

Jomblo Teoritis | The Series

Surat Untuk Kakak Sarrah